Di masa pembangunan ini
tuan hidup kembali
Dan bara kagum menjadi api
Di depan sekali tuan menanti
Tak gentar. Lawan banyaknya seratus kali.
Pedang di kanan, keris di kiri
Berselempang semangat yang tak bisa mati.
MAJU
Ini barisan tak bergenderang-berpalu
Kepercayaan tanda menyerbu.
Sekali berarti
Sudah itu mati.
MAJU
Bagimu Negeri
Menyediakan api.
Punah di atas menghamba
Binasa di atas ditindas
Sesungguhnya jalan ajal baru tercapai
Jika hidup harus merasai
Maju
Serbu
Serang
Terjang
(Februari 1943)
Budaya,
Th III, No. 8
Agustus 1954
Blog Archive
-
▼
2011
(48)
-
▼
November
(35)
- PENERIMAAN
- PERSETUJUAN DENGAN BUNG KARNO
- DIPONEGORO
- KRAWANG-BEKASI
- MALAM
- PRAJURIT JAGA MALAM
- YANG TERAMPAS DAN YANG PUTUS
- SAJAK PUTIH
- AKU
- PUISI KEHIDUPAN
- DERAI DERAI CEMARA
- Puisi Terakhir Soe Hok Gie
- Senja Tadi
- Wanita
- Pasukan pembenci ku !
- Tersesat
- Uang haram
- Ingin hilang ingatan
- Sejhelia
- Tak tergantikan
- Perang
- Semangkok sesal(perbuatan syetan)
- Adinda
- Cukup sudah=Sudah cukup
- Membalut bahagia dalam sunyi
- Tradisi
- mencari celah
- Sidang kemaren
- 'Saat membuka mata, Aku harus sudah melupakan nya....
- Lelaki senja dan mentari
- Aku membenci guru !
- Seprai hijau lumut
- *Satu bayang yang tertahan*
- Aku memang tak lihai membidik hati wanita, ayah me...
- Wasallam Cintaku !
-
▼
November
(35)
Labels
- Buku (5)
- Cerpen (2)
- Curcol (4)
- Gie (1)
- khairil anwar (12)
- Me (4)
- puisi (9)
- Puisi My Friend (32)
- Puisi Q (10)
Popular Posts
Selasa, 29 November 2011
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar
♥♥ Tinggalkan komentar anda...kritik dan saran sangat membantu yah ♥♥
♥♥ ^.^ ♥♥